Today, Apple Computer continues to enjoy a high level of loyalty with a small group of core users who are fanatically devoted to everything Apple. In some loyal minds, using an Apple Computer translates into belonging to a superior part of the human race – the computer elite – who “get” why Apple Computers are better than all those other computers.Memang membandingkan bhinneka.com dengan Apple tidaklah setimpal, ngga kufu, ngga apple-to-apple. Tetapi aku rasa bhinneka.com menuju kesana. Web site ini punya jati diri, tinggal diekspresikan jadi brand image dan pelayanan yang makin baik. Aku rasa mungkin aja, tuh.
Komputopia Hippy
Tuesday, 4 August 2009
Untung Ada Bhinneka.com
Thursday, 30 July 2009
Ngebandingin Mac OS X Leopard dan Windows XP
1. Boot time dari nyalain hingga proses login selesai.
Mac OS cepat, WinXP lambat.
2. Shut down hingga bener-bener mati:
Mac OS cepat, WinXP lambat.
3. Lock computer
Win XP menyediakan opsi "Lock Computer" jika pada user account pilihan "Use the welcome screen" di non-aktifkan, atau jika komputer anda terhubung pada domain network. Maksudnya biar pengguna bisa ninggalin komputer dengan file terbuka dan aplikasi tetap bekerja, dengan aman (ditinggal dalam posisi di"Lock"). Dalam environment ini, "Lock Computer" sangat penting.
Leopard tidak menyediakan opsi ini, mungkin dianggap tidak relevan, karena toh proses shut-down dan booting nya sungguh cepat. Jadi kalau mau ninggalin komputer, ya matiin aja komputernya. Praktis, heman energy. Ingat, apple kemana-mana selalu ngomongin green computing, salah satu produk komputernya cuma butuh listrik 13 watt untuk beroperasi, hmmm...
4. Cut, copy, paste
WinXP menyediakan "Cut" yang intinya adalah gabungan antara copy dan delete. Praktis digunakan kalau kita mau memindahkan banyak file. Tanpa "cut" bisa jadi kita lupa men-delete file yang sudah di-copy-paste ke tempat lain.
Leopard tidak punya "cut". Kadang ngeselin juga.
5. Keranjang sampah
Baik WinXP maupun Leopard punya keranjang sampah. WinXP nyebutnya recycle bin, Mac nyebutnya trash.
Win XP punya feature untuk me-restore sendiri file yang ada di recycle bin ke tempat asalnya sebelum dia dibuang.
Leopard harus melakukan copy-paste ke folder asalnya. Artinya kita mesti inget di mana file path yang semestinya.
6. Privilege
WinXP waktu diinstal, otomatis anda jadi adminnya. Enak nih. Namun apa aman?
Leopard versi client, secara default mematikan privilege administrator. Untuk mengaktifkan administrator, mesti masuk ke terminal dulu tuh. Hmm musti ngerti syntax terminal di UNIX dong...
7. Hidden file
WinXP punya GUI untuk ngubah property hide dan show suatu file serta dapat memaksa hidden file untuk tetap keliatan dari GUI. Enak, gampang tuh. Tapi apa aman?
Leopard, secara default hanya nampilin yang emang perlu saja. Yang penting-penting buat user saja. Untuk nampilin hidden file, mesti masuk ke terminal, punya privilege admin dan sedikit ngerti syntax Unix. Ribet sih tapi aman.
8. Driver dan Plug and Play
WinXP biasanya tersedia banyak driver. Seringnya ngga ada masalah dan mesti diinstal, sebagian besar nginstal sendiri. Seringkali mesti restart, untuk yang Plug and play sih ngga perlu restart (kalau salah instal ya biasanya perlu restart juga sih).
Leopard tinggal colok, tau-tau jalan. Kadang kita bingung kapan nginstallnya, kok udah jalan sendiri?.. hehe..
Selain itu ada juga hal-hal yang sifatnya user experience:
9. Mencari file dan aplikasi
WinXP meletakkan semua program pada Start Menu di Task bar dengan pilihan classic atau tidak. Atau jika anda cukup ngerti komputer, aplikasi bisa diakses dari folder program files di C:
Leopard mengakses program dari Finder yang memang sangat mudah. Pada "Application" anda tidak mungkin salah mengenali program. Karena yang muncul di folder "application" ini sesungguhnya "folder-folder" yang bisa "dieksekusi".
Point ini bisa kita obrolin lagi belakangan.
10. Daya tahan performansi
WinXP melambat bersamaan dengan usia komputer anda. Istilahnya WinRot, alias "windows membusuk" karena arsitektur sistem operasi ini memungkinkan penumpukan file-file atau records pada registry yang tidak pada tempatnya makin bertambahs semacam disintegrasi lah.
Leopard selalu lincah, mau baru beli atau sudah tua kecepatannya sama.
11. Gaya dan mental state
Pemilik WinXP biasanya bilang: "sukurlah gw udah ada komputer, buat kerja, jadi bisa nyari sampingan" -sambil mengurut dada.
Pemilik Mac biasanya bilang:"anjrit, gw punya mac sekarang. keren bener gw!" saat mac-nya dikeluarin dari tas, yang lain ngga jadi ngeluarin laptopnya tuh...
Terus terang, ngebandingin Mac OS X Leopard sama WinXP rasanya ngga fair. Serius. Rasanya ngga apple to apple, gitu. Mungkin lebih fair ngebandingin Leopard sama Vista karena Vista merupakan OS modern (dibanding WinXP yang merupakan OS classic - dalam arti masih menggunakan metafor Win 31 dan 98). Namun itu juga ngga mungkin, karena Vista dianggap gagal diterima pasar. Apalagi sebentar lagi, September 2009, Mac OS X Snow Leopard bakal di launching, artinya bakal seangkatan dengan Windows 7 (launching oktober 2009).
Membandingkan kedua OS baru ini mungkin bakal lebih seru.
Wednesday, 29 July 2009
Hard Disk SCSI antara biaya dan performansi.
Dulu, pin 25 digunakan pada SCSI I (Narrow) dan pin 50 digunakan oleh Fast SCSI II
Sesungguhnya perbedaan antara pin 68 dan pin 80 hanya pada kemampuan hot-swap nya. Yaitu kemampuan untuk copot dan pasang saat komputer sedang menyala. Dulu, ini keren banget. Anak-anak generasi sekarang ngerasa biasa-biasa saja karena sudah pada terbiasa dengan flash disk/memory stick USB, walaupun memory stick USB tidak murni hot-swap, ini kita diskusikan lain waktu deh.
12 pin tambahan pada SCSI 80 pin digunakan untuk power. Inilah power yang digunakan saat hot swap. Dengan begitu, hingga sekarang ngga ada SCSI controller ber-pin 80, yang ada hanya pin 68. Karena memang tidak ada standar SCSI 80 pin, yang ada SCSI 68 pin (16 bit) plus 12 pin power hot-swappable dan menggunakan connector SCA-2 (Single Connector Attachement 2).

Pastikan jenis konektornya benar, chek di sini.
Kerennya SCSI 80 pin bukan melulu karena hot-swap, namun karena hot-swap ini merupakan feature keren dari RAID (Redundant Array of Inexpensive Disks). Yang dengan RAID kita bisa menggabungkan hard disk secara redundant dan jika satu HD rusak, kita bisa ganti tanpa perlu matiin mesinnya. Artinya potensi downtime berkurang.
Sekarang kebanyakan orang beralih ke SATA dan derivatifnya. Memang lebih nyaman dan simple. Ada data yang nunjukin performansi SCSI tidak setara dengan gosipnya, klik disini. Apalagi kalau dibandingin sama SATA II dan SATAIII, ya. Perlu diinget semua versi SATA juga mendukung AHCI (advanced host controller interface) yang artinya hot-swap juga, dan mendukung NCQ (native command queing) sama seperti SCSI untuk mengoptimasi akses data kebeberapa area pada disk "sekaligus". Ah, kita ngomongin SATA lain kali deh.
Bisa dibilang teknologi SCSI jadi jagoan sejak pertengahan 80 an sampe pertengahan 90 an. Sekarang, teknologi ini keliatannya terlalu ribet dan mahal. Bayangin HD SCSI 68 pin untuk 300 GB saja harganya sekitar USD 500 alias sekitar IDR 5.000.000,- waks!
Sampai saat ini anak-anak IT generasi akhir 80 an - awal 90 an masih banyak yang mendewakan Hard disk SCSI. Sementara gw walaupun tergolong generasi itu tapi hmmm....
